Skip to content
Advertisements

Menjadi Value Investor Lebih Menyenangkan dari Growth Investor

Hello Sahabat Koloni,

businessman-3300907_1280

Kali ini artikelnya soal membandingkan bahwa menjadi Value Investor itu lebih menyenangkan dari Growth Investor. Kenapa? Mari kita simak ulasannya berikut ini.

Jadi dalam dunia trader saham dikenal dua aliran, pertama adalah Value Investor dan yang kedua adalah Growth Investor. Seorang Value Investor menganalisa dan melakukan investasi berdasarkan analisa Fundamental saham dari perusahaan, sedangkan bagi Growth Investor mereka membeli saham hanya berdasarkan pergerakan grafiknya saja.

Adapun Growth dan Value Investing adalah kata benda abstrak dari kata invest yang juga menggambarkan bentuk aktifitas investasi yang dilakukan dari kedua aliran trader di atas.

analis

Perbedaan dari Value dan Growth Investor

Ada beberapa hal yang penulis bandingkan dari kedua jenis trader di atas, di antaranya adalah:

1. Analisa

Bagi investor yang beli saham berdasarkan nilai dan harga dari saham, tepatnya menilai dari sisi Fundamental perusahaan dan harga wajar dari saham tersebut, cenderung dalam menganalisa hanya butuh waktu sekali saja.

Maksudnya apa?

Jadi biasanya Value Investor setelah melakukan screening saham dan menemukan beberapa saham yang mungkin layak invest, ia kemudian akan melakukan analisa mendalam dari beberapa saham tersebut berdasarkan laporan keuangan terbaru dari perusahaan tersebut, dan bila ketemu yang Fundamental-nya bagus dan harganya masih murah maka barulah ia membeli sahamnya.

Dan setelah itu, bisa dibilang hampir tidak ada lagi yang ia lakukan selain menunggu harga sahamnya naik sesuai dengan target yang telah ia tetapkan. Dan bila seandainya sahamnya turun ia pun tidak akan buru-buru menjualnya, kalau bukan karena faktor Fundamental-nya yang menjadi buruk, maka ia akan melakukan Average Down untuk mendapatkan selisih harga tengah dari saham tersebut.

Kemudian, bedanya dengan Growth Investor yang menganalisa dan membeli saham hanya dari grafik harganya saja, entah itu Fundamental-nya bagus atau tidak, di awal ia harus mulai menganalisa dulu grafik pergerakan harga sahamnya, dan bila ternyata sahamnya mulai cenderung turun maupun naik maka ia harus melakukan analisa lagi, dan ini dilakukan bisa dalam waktu jam atau hari saja. Dan ini artinya seorang analis Teknikal butuh waktu banyak berada di depan komputer seharian.

2. Resiko

Mengenai resiko juga jelas sekali, kalau analis Fundamental belinya pas harganya lagi turun, sedang analis Teknikal belinya pas harganya cenderung naik, bahkan banyak juga yang ketika harganya sudah kelewat mahal tetap saja dibeli karena mereka melihat grafiknya yang terus naik.

Dari perbedaan di atas jelas sekali bahwa menjadi Value Investor itu lebih aman karena faktanya yang namanya turun pasti lawannya naik, demikian sebaliknya. Maksudnya, kalau kamu beli saham pas dia lagi murah-murahnya dimana tidak ada investor yang tertarik membelinya (seperti halnya saham HRUM pas masih dihargai Rp 820 per lembar di Mei 2016, sekarang di 2018 sudah 3000-an), maka jika sektornya kembali cerah lagi maka saham tersebut besar kemungkinan akan naik.

Cukup berbeda dengan analis teknikal yang beli saham pas lagi hot-hotnya, maka akan ada waktu dimana sahamnya akan berbalik turun. Kenapa? Ya.. Karena seperti disampaikan di atas bahwa lawan dari naik adalah turun. Sehingga, harus berhati-hati betul kalau sewaktu-waktu terjadi reversal atau pembalikan harga.

Lebih Jelasnya, Silahkan Baca : Analis.co.id

3. Waktu

Mengenai waktu jelas sekali, karena Value Investor hanya melakukan analisa sekali dan setelah itu ditinggal pergi berlibur, jadi waktu untuk bersantai bersama keluarga dan juga berlibur tentu lebih banyak.

Ada pun untuk untuk Growth Investor yang menggunakan dasar analisa Teknikal, maka ia tidak bisa melakukan itu dimana setelah beli sahamnya ia harus memantau pergerakan harganya. Jelas sekali ini harus dilakukan, apalagi kalau saham yang dibeli sudah mahal dan Fundamental-nya kurang bagus karena sewaktu-waktu ia bisa berbalik arah.

4. Imbal Hasil

Untuk yang satu ini saya tidak perlu repot-repot menjelaskannya. Saya hanya mau memberi pertanyaan, dari dua aliran investor di atas, siapakah investor yang pernah menjadi orang terkaya nomor #1 di dunia?

Semua pasti sudah tau kan apa jawabannya! Ya, tentunya dari Value Investor, lebih jelasnya Warren Buffett.

Dialah yang kita sebut dengan bapaknya Value Investor dunia. Dengan menjadi orang terkaya di dunia, saat ini 10 besar orang terkaya di dunia, maka bisa dipastikan bahwa keuntungannya dari saham tidak main-main, apalagi kalau kita melihat sejarah awal ia memulai berinvestasi dengan hanya modal $100 saja.

Kesimpulannya : Menjadi Value Investor Lebih Menyenangkan dari Growth Investor, karena selain waktu yang digunakan lebih sedikit dalam berinvestasi dan lebih banyak untuk keluarga, juga imbal hasilnya yang lebih banyak tanpa harus repot-repot duduk di depan komputer seharian.

Artikel ini ditulis langsung oleh Pak Zulbiadi Latief, Founder dari Analis.co.id. Koloni Saham tidak melakukan banyak perubahan di artikel ini dan hanya melakukan sedikit editing agar format artikel ini bisa sama dengan format di artikel-artikel lainnya.

Advertisements

kolonisaham View All

Seorang karyawan biasa yang berdedikasi untuk terus belajar, trading saham dan berbagi Dunia Saham kepada para Sahabat Koloni.
Bring Us Together.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: